1/29/13

Vision of Marriage ( Part 1 )

Letters for new wives #3 : Vision of Marriage ( part 1 )

Dear sisters,

Seberapa banyak dari kalian yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis?
Papa dan mama bercerai sejak kalian masih kecil? Salah satu orangtua sudah meninggal? atau tumbuh dalam keluarga dimana tidak ada 'figur ayah' sehingga membuat kalian tidak mengerti bagaimana membangun hubungan secara sehat dengan lawan jenis. Atau mungkin lahir dalam keluarga dimana figur mama lebih dominan? Mama lebih 'menguasai' (take control) sehingga tidak ada contoh/ role-model gimana buat jadi istri yang baik? Atau mungkin papa dan mama kita tidak 'bercerai' secara hukum but they are not in love anymore. Somehow kita anak-anak bisa 'sense' hal itu kan?

Kita tidak bisa 'menutup mata' dari dampak keluarga yang papa-mama tidak melakukan peranan/ fungsinya dengan baik. Sedikit - banyak itu akan mempengaruhi kita, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang seperti itu. Mempengaruhi paradigma/perspektif kita, menghasilkan Gambar diri yang buruk, perasaan tidak berharga, tertolak, tidak diinginkan, tidak dikasihi, tidak secure dalam hubungan, punya trauma atau ketakutan, tidak berani menghadapi konflik, kecenderungan untuk controlling, susah untuk komitmen, gampang lari kalau ada masalah, mendam konflik karena takut 'ditinggalkan', ketagihan berusaha menyenangkan pasangan atau takut akan perceraian. 'buah-buahnya' bisa macam-macam dan sekalipun kita sudah lahir baru di dalam Kristus, bisa saja hal2 tersebut masih menghantui hidup kita. Tapi kabar baiknya adalah Yesus mau membebaskanmu! KuasaNya sanggup memulihkan hati kita dari setiap luka dan trauma yang sadar atau tidak sadar kita alami sebagai akibat dari disfungsi keluarga.

Kita tidak perlu mengalami hal yang sama dari apa yang orangtua kita alami!
Kita bisa punya masa depan dan juga 'pernikahan yang indah' kalau kita terus apply kebenaran Firman Tuhan dan punya respon yang BENAR dalam setiap masalah yang kita hadapi. Kita bisa MENANG, kita gak perlu 'menderita' hal2 yang sama seperti apa yang terjadi dalam kehidupan pernikahan orangtua kita. Semua itu tergantung dari KEPUTUSAN yang kamu ambil :)

Ada 2 kuncinya :
1. Forgive your parents for their sins, terima dan kasihi mereka, sekalipun mereka sudah melukaimu dan gagal menjadi orangtua yang memberikan contoh yang baik.

Keluarga saya, sangat jauh dari yang namanya 'keluarga ideal'. Papa dan mama saya tidak memberikan 'gambaran yang baik' dari sebuah pernikahan. Papa saya 'hidup bersama tanpa ikatan pernikahan' dengan seorang wanita sebelum ia pada akhirnya menikah dengan mama saya. Jadi saya punya 2 kakak tiri dari pihak papa. Sedangkan mama saya sudah pernah menikah juga ( dan akhirnya bercerai ) sebelum menikah dengan papa saya. Lewat pernikahan pertamanya, mama mempunyai 1 orang anak laki-laki yang kemudian meninggal di usia 25 tahun karena narkoba. Papa saya sendiri akhirnya selingkuh dan kami harus meninggalkan rumah, berpisah dari papa demi kebaikan mama dan adik2 saya. Hal itu terjadi 3 bulan sebelum pernikahan saya! Perjalanan berat dan penuh airmata. Tapi saat itu mama saya sudah lahir baru dan mama tau kebenaran dan mama terus berusaha ( jatuh bangun tentunya ) untuk mengampuni dan mengasihi. Papa saya akhirnya jatuh sakit dan mama terus menunjukkan kasih dan pengampunan lewat tindakan yang nyata. Pada akhirnya papa saya menyerahkan hati dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat. Saya bersyukur bisa melihat hubungan orangtua saya dipulihkan, sebelum papa saya meninggal. Hal itu membawa 'kesembuhan' tersendiri di hati saya.

2. Izinkan kebenaran firman Tuhan membebaskanmu dan memperbarui pikiranmu.
" Then you will know the truth, and the truth will set you free."
Izinkan Tuhan terus mengubah paradigma/perspektif ( cara pandangmu).

Pernikahanmu tergantung dari perspektifmu melihat pernikahan itu sendiri.

Kalo kita punya teladan/ role model yang benar dalam hidup kita, kemungkinan besar kita punya perspektif yang benar tentang sebuah pernikahan. Tapi begitu sebaliknya, kalo gak ada, begitu banyak trauma, ketakutan dan juga kecemasan yang menghantui. Saya merasakan hal2 tersebut dan saya percaya banyak juga wanita2 yang ngalamin hal yang sama seperti saya.

Perspektif yang benar hanya kita dapat ketika kita RAJIN membaca Firman Tuhan.
Ketakutan digantikan dengan IMAN.
itu cuma kalo kita mau meditasi Firman!

Roma 12 : 2a
"Do not conform to the pattern of this world, 
but be transformed by the renewing of your mind"
Jangan jadi serupa dengan 'dunia' ini... ( ikut2an tren artis2 or org yg gak kenal kebenaran dengan kawin-cerai-kawin-cerai )
BERUBAHLAH... be transformed!
kita bisa BERUBAH kalo kita terus RENEW our MIND with the TRUTH!
Saya percaya gak ada yang mau punya pernikahan gagal.
Tapi seberapa banyak yang 'mau kerja keras' buat membangun sebuah pernikahan yang indah?
Pernikahan itu KERJA KERAS... gak boleh stop untuk terus belajar, belajar berkomunikasi, belajar ngaku dosa, belajar mengampuni, belajar mengerti, belajar mendukung, belajar berkorban demi kepentingan pasangan, belajar.. belajar dan belajar.
( saya nulis ini juga sambil terus mengingatkan diri saya. fyiiiuh...cross cultural marriage itu luarbiasa banyak tantangannya. Tapi Tuhan baik, Tuhan mengirim orang2 yang bisa mengerti kondisi kami, simple yah krn mrk juga punya cross cultural marriage )

Oke, saya gak bisa berpanjang lebar lagi, sudah waktunya ngajak anak-anak ke taman. kesian kalo gak, tar jadi kesorean :)

Please baca INI, postingan yang saya tulis ketika saya baru menikah 3 bulanan :)
Dalam postingan tersebut curhat saya sebagai penganten baru tapi juga ada janji Tuhan yang indah yang perlu kamu konfes dan renungkan untuk pernikahanmu.

God bless you, my friends!

- Lia





7 comments:

Lasma Frida said...

Ci,tau ga. Pembina BPN sya n Gerry cma sndrian. Istrinya udh ga brsdia mlyani. Ksian sih kk pmbina kt yg pny krnduan mlyni brg istriny,tp trnyt ga bs.
Sempt sdih krn Tuhan sring bgt hdpin sya dgn mslh 'payung' rohani. kyk ga pny pmbina BPN yg cwe gni. Tp tiap bca blog cici jd ngrasa 'dpayungin'. akakakak. thk u bwt sharingny,ci. :D

Anita Bong said...

thank you so much for sharing :) it really encourage me a lot.

Keluargaku cukup baik hanya saja, karena tidak mengenal Kristus jadi ada banyak hal yang tidak sesuai dengan gambaran keluarga ideal yang sedikit banyak mempengaruhi pola pikirku =.= dengan baca postingan ini aku bener2 ngerti apa yg harus aku lakukan dalam hidupku :) hehehe~

Stephanie Gunawan said...

Cii teruskaann nulis seri ini. Aku jadi banyak belajar niii :)

Lia_soc said...

@ Lasma :
lah kesian amat ngayomin pasangan sendirian? tapi emang mungkin 'fase' yg dijalanin sm istri pembinamu lagi berat jd dia harus prioritas di keluarga. ambil positifnya aja yah... tetep bsyukur masih ada yang mau ngayomin km dan gerry. tp km juga kudu berusaha cari lagi role model or kk pembina cewek yg sudah menikah yg bs cover km di gereja.

@anita :
Puji Tuhan!!! :) generasimu pasti jauh lebih baik! btw apa yg km harus lakukan dlm hidupmu? huehehehehe*memastikan aja km gak salah nangkep*

@stepgun :
yes, i will. demi kalian yang baru pada merid :) aku dulu pas baru2 merid pengen banget ada yg bs guidance kami dan Tuhan baik sih... byk dikasih org2 yg bs jd inspirasi! :)

eternal_love said...

Bagus banget cii.. aku share and kutip 1 kalimatnya yah cii... aku suka dengan kata2 Pernikahan itu kerja keras. karna itu memang sangat benar. apa lagi menikah tidak dengan Godly man. wong sama Godly man aja harus kerja keras jadi kalo sama bukan Godly man kerja EXTRA keras. jadi buat yg masih single, kalian harus dan harus kerja extra keras saat single, kerja extra keras u/ cari hatiNya Tuhan dan biarin Tuhan yg berikan a Godly man for u.

Lasma Frida said...

Hahaha T.T..itu dia,ci. sejauh in lbh bnyk tny2 ke tmen splynan yg udh merit.

Yosy Christy Natalia said...

Ci tulisannya bener" memotivasi, bangga bgt pasti trisdian jadi adik cici :3 mueheheh